Ringkasan Materi Awal Berdirinya Dinasti Abbasiyah

SEJARAH AWAL BERDIRINYA DINASTI/DAULAH ABBASIYAH

  1. Sejarah Awal Berdirinya Dinasti Abbasiyah

Awal Berdirinya bani abbasiyah adalah
dikarenakan pada masa pemerintahan Bani Umaiyyah pada masa pemerintahan khalifah Hisyam ibn abdi al-Malik muncul kekuatan baru yang menjadi tantangan berat bagi pemerintahan bani umayyah. Kekuatan itu berasal dari kalangan bani hasyim yang dipelopori keturunan al-Abbas ibn abd al-muthalib. Gerakan ini mendapat dukungan penuh dari golongan syiah dan kaum mawali yang merasa di kelas duakan olehpemerintahan bani umayyah. Pada waktu itu ada beberapa factor yang menyebabkan dinasti umayyah lemah dan membawanya kepada kehancuran, akhirnya pada tahun 132 H (750 M) tumbanglah daulah umayyah dengan terbunuhnya khalifah terakhir yaitu Marwan bin Muhammad dan pada tahun itu berdirilah kekuasaan dinasti bani abbas atau khalifah abbasiyah karena para pendiri dan penguasa dinasti ini keturunan al-Abbas paman Nabi Muhammad Saw., dinasti abbasiyah didirikan oleh Abdullah ibn al-Abbas. Kekuasaannya berlangsung dalam rentang waktu yang panjang dari tahun 132 H sampai dengan 656 H. selama berkuasa pola pemerintahan yang diterapkan berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik, social dan budaya. Dinasti Abbasiyah di samping bercorak Arab murni, juga terpengaruh dengan corak pemikiran dan peradaban Persia, Romawi Timur, Mesir, dan sebagainya. Juga dinasti Abbasiyah ini sistem politiknya lebih bersifat demokratis dari pada dinasti Umayyah yang Orientalis.

Pada masa pemerintahan Khalifah Al-Mahdi (158 – 169 H / 775 – 785 M), dinasti Abbasiyah memperluas kekuasaan dan pengaruh Islam ke wilayah Timur Asia Tengah, dari perbatasan India hingga ke China. Saat itu umat Islam berhasil memasuki selat Bosporus, sehingga membuat Ratu Irene menyerah dan berjanji membayar upeti. Pada masa dinasti ini pula wilayah kekuasaan Islam sangat luas yang meliputi wilayah yang telah dikuasai Bani Umayyah, antara lain Hijjaz, Yaman Utara dan Selatan, Oman, Kuwait, Iran (Persia), Irak, Yordania, Palestina, Libanon, Mesir, Tunisia, Al-Jazair, Maroko, Spanyol, Afghanistan, dan Pakistan. Juga mengalami perluasan ke daerah Turki, wilayah-wilayah Armenia dan daerah sekitar Laut Kaspia, yang sekarang termasuk wilayah Rusia. Wilayah bagian Barat India dan Asia Tengah, serta wilayah perbatasan China sebelah Barat.

  1. Perkembangan kebudayaan serta ilmu pengetahuan dan Ilmuwan yang berpengaruh pada masa Dinasti Bani Abbasiyah

Dinasti Abbasiyah merupakan salah satu dinasti Islam yang sangat peduli dalam upaya pengembangan ilmu pengetahuan. Upaya ini mendapat tanggapan yang sangat baik dari para ilmuwan. Sebab pemerintahan dinasti abbasiyahtelah menyiapkan segalanya untuk kepentingan tersebut. Diantara fasilitas yang diberikan adalah pembangunan pusat-pusat riset dan terjemah seperti baitul hikmah, majelis munadzarah dan pusat-pusat study lainnya.

Kemajuan-Kemajuan dan Perkembangan yang Dicapai

Secara garis besar ada 2 faktor penyebab tumbuh dan berkembangnya peradaban Islam, yakni faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal berasal dari dalam ajaran Islam bahwa ajaran Islam yang bersumber pada Al-Qur’an dan Hadits, memiliki kekuatan yang luar biasa yang mampu memberikan motifasi bagi para pemeluknya untuk mengembangkan peradabannya.

Sedangkan faktor eksternalnya, yaitu ajaran yang merupakan proses sejarah umat Islam di dalam kehidupannya yang dijiwai oleh nilai-nilai ajaran Islam. Faktor penyebab tersebut adalah semangat Islam, perkembangan organisasi ketatanegaraan, perkembangan ilmu pengetahuan, dan perluasan Islam.

Bentuk-Bentuk Peradaban Islam dan Tokoh-Tokohnya

a. Kota-Kota Pusat Peradaban

1) Kota Baghdad, merupakan ibu kota negara kerajaan Abbasiyah yang didirikan oleh Khalifah Abu Ja’far Al-Mansur (754 – 775 M) pada tahun 762 M. kota ini terletak di tepian sungai Tigris. Masa keemasan kota Baghdad terjadi pada masa pemerintahan Khalifah Harun Al-Rasyid (786 – 809 M), dananaknya Al-Makmun (813 – 833M).
2) Kota Samarra, letaknya di sebelah timur sungai Tigris yang berjarak lebih kurang 60 km dari kota Baghdad. Dikota ini terdapat 17 istana mungil yang menjadi contoh seni bangunan Islam di kota-kota lain.

b. Bangunan Tempat Pendidikan dan Tempat Peribadatan

1) Madrasah. Ada banyak madrasah, madrasah yang terkenal pada zaman itu adalah Nizamiyyah, yang didirikan oleh Nizam Al-Mulk, seorang perdana menteri pada tahun 456 – 486 H. Madrasah ini terdapat di banyak kota, antara lain di Baghdad, Isfahan, Nisabur, Basrah, Tabaristan, Hara, dan Musol.

2) Kuttab, yaitu sebagai lembaga pendidikan dasar dan menengah.

3) Majlis Muhadharah sebagai tempat pertemuan dan diskusi para ilmuan.

4) Darul-Hikmah sebagai perpustakaan.

5) Masjid-masjid sebagai tempat beribadah dan sebagai tempat pendidikan tingkat tinggi dan takahsush. Di antara masjid yang terkenal adalah masjid Cordova, masjid Ibnu Touloun, masjid Al-Azhar, dan sebagainya.

Bidang-bidang ilmu pengetahuan umum yang berkembang antara lain:

a. Filsafat(Ilmu yang mempelajari tentang

Proses penerjemahan yang dilakukan umat Islam pada masa dinasti bani abbasiyah mengalami kemajuan cukup besar. Para penerjemah tidak hanya menerjemahkan ilmu pengetahuan dan peradaban bangsa-bangsa Yunani, Romawi, Persia, Syiria tetapi juga mencoba mentransfernya ke dalam bentuk pemikiran. Diantara tokoh yang member andil dalam perkembangan ilmu dan filsafat Islam adalah: Al-Kindi, Abu Nasr al-Faraby, Ibnu Sina, Ibnu Bajjah, Ibnu Thufail, al-Ghazali dan Ibnu Rusyd.

b. Ilmu Kalam(ilmu alat:Ilmu yang mempelajari tentang bahasa arab)

Menurut A. Hasimy lahirnya ilmu kalam karena dua factor: pertama, untuk membela Islam dengan bersenjatakan filsafat. Kedua, karena semua masalah termasuk masalah agama telah berkisar dari pola rasa kepada pola akal dan ilmu. Diantara tokoh ilmu kalam yaitu: wasil bin Atha’, Baqilani, Asy’ary, Ghazali, Sajastani dan lain-lain.

c. Ilmu Kedokteran(Ilmu yang mempelajari tentang

Ilmu kedokteran merupakan salah satu ilmu yang mengalami perkembangan yang sangat pesat pada masa Bani Abbasiyah pada masa itu telan didirikan apotek pertama di dunia, dan juga telah didirikan sekolah farmasi. Tokoh-tokoh Islam yang terkenal dalam dunia kedokteran antara lain Al-Razi dan Ibnu Sina.

d. Ilmu Kimia

Ilmu kimia juga termasuk salah satu ilmu pengetahuan yang dikembangkan oleh kaum muslimin. Dalam bidang ini mereka memperkenalkan eksperimen obyektif. Hal ini merupakan suatu perbaikan yang tegas dari cara spekulasi yang ragu-ragu dari Yunani. Mereka melakukan pemeriksaan dari gejala-gejala dan mengumpulkan kenyataan-kenyataan untuk membuat hipotesa dan untuk mencari kesimpulan-kesimpulan yang benar-benar berdasarkan ilmu pengetahuan diantara tokoh kimia yaitu: Jabir bin Hayyan.

e. Ilmu Hisab(Ilmu yang mempelajari tentang perhitungan,matematika dan waktu)

Diantara ilmu yang dikembangkan pada masa pemerintahan abbasiyah adalah ilmu hisab atau matematika. Ilmu ini berkembang karena kebutuhan dasar pemerintahan untuk menentukan waktu yang tepat. Dalam setiap pembangunan semua sudut harus dihitung denga tepat, supaya tidak terdapat kesalahan dalam pembangunan gedung-gedung dan sebagainya. Tokohnya adalah Muhammad bin Musa al-Khawarizmi.

f. Sejarah(Ilmu yang mempelajari tentang sejarah pada masa dinasti abbasiyah)

Pada masa ini sejarah masih terfokus pada tokoh atau peristiwa tertentu, misalnya sejarah hidup nabi Muhammad. Ilmuwan dalam bidang ini adalah Muhammad bin Sa’ad, Muhammad bin Ishaq

g. Ilmu Bumi(Ilmu yang mempelajari tentang selukbeluk bumi dan isinya)

Ahli ilmu bumi pertama adalah Hisyam al-Kalbi, yang terkenal pada abad ke-9 M, khususnya dalam studynya mengenai bidang kawasan arab.

h. Astronomi(Ilmu yang mempelajari tentang antariksa dan perbintangan)

Tokoh astronomi Islam pertama adalah Muhammad al-fazani dan dikenal sebagai pembuat astrolob atau alat yang pergunakan untuk mempelajari ilmu perbintangan pertama di kalangan muslim. Selain al-Fazani banyak ahli astronomi yang bermunculan diantaranya adalah muhammad bin Musa al-Khawarizmi al-Farghani al-Bathiani, al-biruni, Abdurrahman al-Sufi.

Selain ilmu pengetahuan umum dinasti abbasiyah juga memperhatikan pengembangan ilmu pengetahuan keagamaan antara lain:

a. Ilmu Hadis(Ilmu yang mempelajari tentang Hadist-hadist nabi)

Diantara tokoh yang terkenal di bidang ini adalah imam bukhari, hasil karyanya yaitu kitab al-Jami’ al-Shahih al-Bukhari. Imam muslim hasil karyanya yaitukitab al-Jami’ al-shahih al-muslim, ibnu majjah, abu daud, at-tirmidzi dan al-nasa’i.

b. Ilmu Tafsir(Ilmu yang mempelajari tentang Tafsir Al-Qur an)

Terdapat dua cara yang ditempuh oleh para mufassir(ahli ilmu tafsir) dalam menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an. Pertama, metode tafsir bil ma’tsur yaitu metode penafsiran oleh sekelompok mufassir dengan cara member penafsiran al-Qur’an dengan hadits dan penjelasan para sahabat. Kedua, metode tafsir bi al-ra’yi yaitu penafsiran al-Qur’an dengan menggunakan akal lebih banyak dari pada hadits. Diantara tokoh-tokoh mufassir adalah imam al-Thabary, al-sud’a muqatil bin Sulaiman.

c. Ilmu Fiqih(Ilmu yang mempelajari tentang hukum islam)

Dalam bidang fiqih para fuqaha’(ulama ahli fiqih) yang ada pada masa bani abbasiyah mampu menyusun kitab-kitab fiqih terkenal hingga saat ini misalnya, imam Abu Hanifah menyusun kitab musnad al-Imam al-a’dzam atau fiqih al-akbar, imam malik menyusun kitab al-muwatha’, imam syafi’I menyusun kitab al-Umm dan fiqih al-akbar fi al tauhid, imam ibnu hambal menyusun kitab al musnad ahmad bin hambal.

d. Ilmu Tasawuf(Ilmu yang mempelajari tentang hikmah :tasawuf)

Kecenderungan pemikiran yang bersifat filosofi menimbulkan gejolak pemikiran diantara umat islam, sehingga banyak diantara para pemikir muslim mencoba mencari bentuk gerakan lain seperti tasawuf. Tokoh sufi yang terkenal yaitu Imam al-Ghazali diantara karyanya dalam ilmu tasawuf adalah ihya ulum al-din.dan sebagainya,,

  1. Mengidentifikasi tokoh ilmuwan muslim dan peranannya dalam kemajuan kebudayaan/peradaban islam pada masa dinasti abbasiyah

1. Ibnu Sina (Aviciena)

Nama lengkap Ibnu Sina adalah Abu Ali Husain Ibn Abdillah Ibn Sina. Ia lahir pada tahun 980 M di Asfshana, suatu tempat dekat Bukhara. Orang tuanya adalah Gubernur pada pemerintahan Dinasti Saman.Di Bukhara ia dibesarkan serta belajar falsafah kedokteran dan ilmu – ilmu agama Islam. Ketika usia sepuluh tahun ia telah banyak mempelajari ilmu agama Islam dan menghafal Al-Qur’an seluruhnya. Dari mutafalsir Abu Abdellah Natili, Ibnu Sina mendapat bimbingan mengenai ilmu logika yang elementer untuk mempelajari buku Isagoge dan Porphyry, Euclid dan Al-Magest-Ptolemus. Dan sesudah gurunya pindah ia mendalami ilmu agama dan metafisika, terutama dari ajaran Plato dan Arsitoteles yang murni dengan bantuan komentator – komentator dari pengarang yang otoriter dari Yunani yang sudah diterjemahkan kedalam bahasa Arab. Dengan ketajaman otaknya ia banyak mempelajari filsafat dan cabang – cabangnya, kesungguhan yang cukup mengagumkan ini menunjukkan bahwa ketinggian otodidaknya, namun di suatu kali dia harus terpaku menunggu saat ia menyelami ilmu metafisika-nya Arisstoteles, kendati sudah 40 an kali membacanya. Baru setelah ia membaca Agradhu kitab ma waraet thabie’ah li li Aristho-nya Al-Farabi (870 – 950 M), semua persoalan mendapat jawaban dan penjelasan yang terang benderang, bagaikan dia mendapat kunci bagi segala simpanan ilmu metafisika. Maka dengan tulus ikhlas dia mengakui bahwa dia menjadi murid yang setia dari Al-Farabi Sesudah itu ia mempelajari ilmu kedokteran pada Isa bin Yahya, seorang Masehi. Belum lagi usianya melebihi enam belas tahun, kemahirannya dalam ilmu kedokteran sudah dikenal orang, bahkan banyak orang yang berdatangan untuk berguru kepadanya. Ia tidak cukup dengan teori – teori kedokteran, tetapi juga melakukan praktek dan mengobati orang – orang sakit.Ia tidak pernah bosan atau gelisah dalam membaca buku – buku filsafat dan setiap kali menghadapi kesulitan, maka ia memohon kepada Tuhan untuk diberinya petunjuk, dan ternyata permohonannya itu tidak pernah dikecewakan. Sering – sering ia tertidur karena kepayahan membaca, maka didalam tidurnya itu dilihatnya pemecahan terhadap kesulitan – kesulitan yang dihadapinya. Sewaktu berumur 17 tahun ia telah dikenal sebagai dokter dan atas panggilan Istana pernah mengobati pangeran Nuh Ibn Mansur sehingga pulih kembali kesehatannya. Kemampuan Ibnu Sina dalam bidang filsafat dan kedokteran, kedua duanya sama beratnya. Dalam bidang kedokteran dia mempersembahkan Al-Qanun fit-Thibb-nya, dimana ilmu kedokteran modern mendapat pelajaran, sebab kitab ini selain lengkap, disusunnya secara sistematis. Ibnu Sina pula sebagai orang pertama yang menemukan peredaran darah manusia, dimana enam ratus tahun kemudian disempurnakan oleh William Harvey. Dia pulalah yang pertama kali mengatakan bahwa bayi selama masih dalam kandungan mengambil makanannya lewat tali pusarnya. Dia jugalah yang mula – mula mempraktekkan pembedahan penyakit – penyakit bengkak yang ganas, dan menjahitnya. Dibidang filsafat, Ibnu Sina dianggap sebagai imam para filosof di masanya, bahkan sebelum dan sesudahnya. Kebanyakan buku – bukunya telah disalin kedalam bahasa Latin. Dalam dunia Islam kitab – kitab Ibnu Sina terkenal, bukan saja karena kepadatan ilmunya, akan tetapi karena bahasanya yang baik dan caranya menulis sangat terang. Selain menulis dalam bahasa Arab, Ibnu Sina juga menulis dalam bahasa Persia. Karya – karya Ibnu Sina yang ternama dalam lapangan Filsafat adalah As-Shifa, An-Najat dan Al Isyarat. Sekalipun ia hidup dalam waktu penuh kegoncangan dan sering sibuk dengan soal negara, ia menulis sekitar dua ratus lima puluh karya. Diantaranya karya yang paling masyhur adalah “Qanun” yang merupakan ikhtisar pengobatan Islam dan diajarkan hingga kini di Timur. Buku ini di terjemahkan ke bahasa Latin dan diajarkan berabad lamanya di Universita Barat. Karya keduanya adalah ensiklopedinya yang monumental “Kitab As-Syifa”. Karya ini merupakan titik puncak filsafat paripatetik dalam Islam. Ibnu Sina dikenal di Barat dengan nama Avicena (Spanyol aven Sina) dan kemasyhurannya di dunia Barat sebagai dokter melampaui kemasyhuran sebagai Filosof, sehingga dia di beri gelar “the Prince of the Physicians“. Di dunia Islam ia dikenal dengan nama Al-Syaikh- al-Rais. Pemimpin utama (dari filosof – filosof). Didalam al-Muniqdz min al-Dhalal, al-Ghazali bahwa Ibnu Sina pernah berjanji kepada Allah dalam salah satu wasiatnya, antara lain bahwa ia akan menghormati syari’at tidak melalaikan ibadah ruhani maupun jasmani dan tidak akan minum – minuman keras untuk memuaskan nafsu, melainkan demi kesehatan dan obat. Kehidupan Ibnu Sina penuh dengan aktifitas -aktifitas kerja keras. Waktunya dihabiskan untuk urusan negara dan menulis, sehingga ia mempunyai sakit maag yang tidak dapat terobati. Di usia 58 tahun (428 H / 1037 M) Ibnu Sina meninggal dan dikuburkan di Hamazan.

2. Ibnu Rusydi

Ibnu Rusydi adalah seoarang filsuf cemerlang, ahli ilmu al-qur’an serta ahli kealaman seperti fisika, kedokteran, biologi, dan astronomi. Ia dikenal di barat dengan nama Averroes, yang memiliki nama lengkapAbu al-Walid Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin rusydi. Ibnu Rusydi lahir di Kordoba, Spanyol, pada tahun 520 H/1126 M dan meninggal di Maroko pada bulan safar tahun 595 H/10 Desember 1198 M, dan jenazahnya dibawa ke kordoba untuk dimakamkan. Ayahnya merupakan seorang qadli (hakim agama islam)

Pada tahun 548 H/1153 M ia berada di Maroko mengemban tugas dari Almohad Abdul Mu’min untuk melakukan observasi-observasi astronomi, dan pada saat itu lah ia menulis komentar tentang metafisika, dan menyatakan tentang riset-riset yang mesti dilakukan terhadap gerakan planet-planet. Dan pada tahun 578 H/1182 M, di Maroko ia menggantikan kedudukan Ibnu Thufail sebagai kepala tabib (dokter istana).

Sumbangan Ibnu Rusydi pada bidang filsafat, kedokteran, dan teologi sangatlah banyak dan hanya dapat disejajarkan dengan sumbangan Al-Farabi dan Ibnu Sina. Mesikipun begitu, Ibnu Rusydi lebih unggul dalam tiga masalah fundamental, yakni kemahirannya menguraikan dan menafsirkan pemikiran aristosteles, konstribusinya terhadap bidang jurisprudensi (Fiqih). Ibnu Rusydi dikenal sebagai perintis Ilmu Kedokteran Umum dan perintis mengenai Ilmu jaringan tubuh (Histologi), ia pun berjasa dalam penelitian pembuluh-pembuluh darah dan penyakit cacar.

Ia telah menulis beberapa karya dan komentar-komentar ringkas tentang “organon”, “Physics” dan “Metaphysics”, yang sama baiknya dengan karya besarnya di bidang medis Al-Kulliyat fi ath-Thibb (Aturan-aturan Umum Ilmu Kedokteran) yang terdiri atas 16 Jilid. Ia juga meminta kepada sahabatnya, Abu Marwan Ibnu Zuhr, untuk bekerja sama menulis sebuah buku tentang “particularities” (Al-Umur al-Juz’iyyah), sehingga menurut Abu Ushaybi’ah, karya bersama mereka menjadi sebuah karya lengkap tentang seni pengobatan. Di samping keahliannya dalam bidang-bidang tersebut Ibnu Rusydi juga dikenal pula sebagai pengkritik Ibnu Sina yang paling tajam, meskipun ia tetap respek terhadap karya-karyanya tentang kesehatan (medis).

Selain terkenal sebagai seorang dokter, ia juga dikenal sebagai seorang ahli matematika, hukum islam, dan juga filsuf yang brilian. Ia juga seorang ahli berdebt dalam tulisan (polemik) yang tajam. Karya-karyanya dalam bahasa arab kira-kira ada 78 buah, yang masih tersimpan dan terawat baik di perpustakaan Escurialdi Madrid, Spanyol.

3. Abu Ali Hasan Ibnu Haytam (Al Hazen)

Nama lengkapnya Abu Ali Al-hasan bin AL-Haytam AL-Basri al-Misri, juga dikenal denga nama latin al-Hazen, Avennethar. Ia lahir di Basra sekitar tahun 354 H/965 M. Ibnu al-Haytam adalah seorang ahli matematika ulung serta ahli fisika terbaik yang paling disegani sejak abad ke 11 M. Di masa hidupnya ia juga tercatat sebagai ahli fisika pertama dari kalangan Islam.

Pada tahun-tahun akhir hidupnya ia pindah ke mesir dan bekerja di bawah pemerintahan khalifah Fathimiyah, al-Hakim (966-1020M). ia di percaya mencari metode untuk memantau banjir tahunan sungai Nil, tetapi ia gagal mengemban misi ini karena misi terlalu berat di bebankan ke pundak al-Haytam. Bahkan menurut sebuah sumber, karena kegagalannya tersebut, al-Haytam seakan-akan menghilang.

Dalam Uyumul Ariba fi Thabaqat al Attiba,disebutkan karya-karyanya mencapai 200 judul karya Ilmiah. Tulisannya meliputi bidang Optik, matematika, farmakologi, fisika dan filsafat. Karya-karyanya antara lain sbb : Maqalah fi istikharaj Samt al-Qiblat (teorema kontangen), Maqalah fi Hayat al-Alam, Kitab fi al-Manasit (Kamus Optika), Fi al-Maraya al-Muhriqah bi ad-Dawa’ir (Bibiliotheca Mathematica), Maqabah fi Daw al-Kamar (The Celestino Movement), Fi al-Marava al-Muhriqah bi al-Kuru (Cermin-cermin Parabolik).

4. Al-Fargani (Al Faraganus)

Al-Fargani adalah Salah seorang tokoh astronomi yang berasal dari Farghana, Transoxania, sebuah kota yang terletak di tepi sungai Sardaria, Uzbekistan. Ia hidup zaman Dinasti Bani Abbasiyah semasa kekhalifahan AL-makmun, sampai kematian al-Mutawakkil (847-881 M). Al Fargani di dunia Barat dikenal dengan nama Alfraganus. Dia telah mempelajari warisan astronomi yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, kemudian menulis sebuah karya tentang astronomi. Karya al Fargani berisikan ringkasan tentang astronomi. Buku ini menjadi buku rujukan dalam mempelajari astronomi. Oleh Gerard Cremona dan Johannes Hispalensis, karya al Fargani kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Latin. Dari bahasa Latin kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris.
Al Fargani yang hidup pada masa Khalifah al Makmun, juga menulis sebuah karya dalam bidang astronomi yang kemudian diterjemahkan oleh orang-orang Barat dengan nama Elemen Astronomi. Buku ini sangat terkenal di kalangan orang-orang Barat.

Pada tahun 247 H/861 M pernah di utus oleh al-Mutawakkil ke Fustas (Kairo) untuk mengawasi dan mengatur pembangunan sebuah Nikometer. Ketika kekhalifahan pernah membangun observatory Astronomi di Baghdad pada tahun 829 M, al-Farghani memulai observasinya di sana. Melalui observasi yang terus-menerus dilakukannya, ia berhasil membuat jadwal Apogee (Apogeum) dan Perigee masing-masing planet dengan system koresponden Episikel ke dalam eksentrisitas-eksentrisitas dan elips-elips yang terdapat dalam astronomi modern.

5. Ibnu Al-baitar

Nama lengkapnya adalah Abu Muhammad Abdullah Ibn Ahmad Ibn Al-Baitar Dhiya Al-Din Al-Malaqi. Ia dikenal sebagai ahli Botani (Tertumbuhan) dan Farmasi (Obat-obatan) pada abad pertengahan. Dia dilahirkan pada akhir abad ke-12 di kota Malaga (Spanyol). Ibnu al-Baitar menghabiskan masa kecilnya di tanah Andalusia tersebut.

Sumbangsih utama al-Baitar adalah Kitab al-Jami fi al-adwiya al-Mufrada. Buku ini sangat popular dan merupakan kitab paling terkemuka mengenai tumbuh-tumbuhan dan kaitannya dengan ilmu pengobatan arab. Kitab ini menjadi rujukan para ahli tumbuhan dan obat-obatan hingga abad ke-16.

6. Abdul Al-Hasan Ali Al Mas’ud.

Abul Hasan Ali Al-Masu’di merupakan salah seorang pakar sains Islam yang meninggal di Postat pada tahun 956 M. Dilahirkan di Baghdad,Irak sekitar akhir abad ke-9. dia juga merupakan seorang ahli sejarah, geografi, ahli geologi, ahli zoology muslim, dan falsafah, ia juga mempelajari ilmu Kalam (teologi), akhlak, politik, dan ilmu bahasa. Singkatnya, ia adalah seorang ensiklopedi dalam sains islam. Dia pernah mengembara ke Sepanyol, Rusia, India, Sri Lanka dan China serta menghabiskan umurnya di Syiria dan Mesir. Dia berasal dari keturunan sahabat Nabi Muhammad, Abdullah bin Mas’ud.

Bukunya Muruj adh-Dhahab wa Ma’adin al-Jawahir (Padang Emas dan Lombong Manikam) yang ditulis pada 943, merupakan himpunan kisah perjalanan dan pembelajarannya. Ia menyentuh aspek sosial dan kesusasteraan sejarah, perbincangan mengenai agama dan penerangan geografi. Dia juga menulis buku Al-Tanbih wa al-Ashraf, yang merupakan buku terakhirnya.

7. Muhammad Ibnu Musa Al-Khawarizmi

Muḥammad bin Mūsā al-Khawārizmī bernma lengkap Abu Abdullah Ibn Musa Al-Khawarizmi adalah seorang ahli matematika, astronomi, astrologi, dan geografi yang berasal dari Persia. Lahir sekitar tahun 780 di Khwārizm (sekarang Khiva, Uzbekistan) dan wafat sekitar tahun 850 di Baghdad. Dalam usia mudanya selama khalifah Al-Makmun, ia bekerja di bayt al-hikmah (Rumah kearifan) di Baghdad. Di sana ia bekerja di sebuah observatorium tempat ia menekuni studi matematika dan astronomi. Di sana juga ia di percaya untuk memimpin perpustakaan sang khalifah.

Buku pertamanya, al-Jabar, adalah buku pertama yang membahas solusi sistematik dari linear dan notasi
kuadrat. Sehingga ia disebut sebagai Bapak Aljabar. Translasi bahasa Latin dari Aritmatika beliau, yang memperkenalkan angka India, kemudian diperkenalkan sebagai Sistem Penomoran Posisi Desimal di dunia Barat pada abad ke 12. Ia merevisi dan menyesuaikan Geografi Ptolemeus sebaik mengerjakan tulisan-tulisan tentang astronomi dan astrologi.

Kontribusi beliau tak hanya berdampak besar pada matematika, tapi juga dalam kebahasaan. Kata Aljabar berasal dari kata al-Jabr, satu dari dua operasi dalam matematika untuk menyelesaikan notasi kuadrat, yang tercantum dalam buku beliau. Kata logarisme dan logaritma diambil dari kata Algorismi, Latinisasi dari nama beliau. Nama beliau juga di serap dalam bahasa Spanyol
Guarismo dan dalam bahasa Portugis, Algarismo yang berarti digit.

Karya terbesar beliau dalam matematika, astronomi, astrologi, geografi, kartografi, sebagai fondasi dan kemudian lebih inovatif dalam aljabar, trigonometri, dan pada bidang lain yang beliau tekuni. Pendekatan logika dan sistematis beliau dalam penyelesaian linear dan notasi kuadrat memberikan keakuratan dalam disiplin aljabar, nama yang diambil dari nama salah satu buku beliau pada tahun 830 M, al-Kitab al-mukhtasar fi hisab al-jabr wa’l-muqabala atau: “Buku Rangkuman untuk Kalkulasi dengan Melengkapakan dan Menyeimbangkan“, buku pertama beliau yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Latin pada abad ke-12.

Pada buku beliau, Kalkulasi dengan angka Hindu, yang ditulis tahun 825, memprinsipkan kemampuan difusi angka India ke dalam perangkaan timur tengah dan kemudian Eropa. Buku beliau diterjemahkan ke dalam bahasa Latin, Algoritmi de numero Indorum, menunjukkan kata algoritmi menjadi bahasa Latin.

Sistemasi dan koreksi beliau terhadap data Ptolemeus pada geografi adalah sebuah penghargaan untuk Afrika dan Timur –Tengah. Buku besar beliau yang lain, Kitab surat al-ard (“Pemandangan Bumi“;diterjemahkan oleh Geography), yang memperlihatkan koordinat dan lokasi dasar yang diketahui dunia, dengan berani mengevaluasi nilai panjang dari Laut
Mediterania dan lokasi kota-kota di Asia dan Afrika yang sebelumnya diberikan oleh Ptolemeus. Ia kemudian mengepalai konstruksi peta dunia untuk Khalifah Al-Ma’mun dan berpartisipasi dalam proyek menentukan tata letak di Bumi, bersama dengan 70 ahli geografi lain untuk membuat peta yang kemudian disebut “ketahuilah dunia”. Ketika hasil kerjanya disalin dan ditransfer ke Eropa dan Bahasa Latin, menimbulkan dampak yang hebat pada kemajuan matematika dasar di Eropa. Ia juga menulis tentang astrolab dan sundial.

  1. KERUNTUHAN DINASTI ABBASIYAH

1. Proses Keruntuhan Dinasti Abbasiyah

Adapun terlihat gejala runtuhnya dinasti abbasiyah yakni ketika masa kekhalifahaan Al-Mutawakkil (847-861 M), karena merupakan khalifah yang lemah dalam hal kepemimpinan apabila di bandingkan dengan al-Watsiq. Khalifah yang baru ini mulai menyingkirkan orang-orang keturunan Turki, tetapi tidak terlaksanakan dengan sempurna karena keturunan Turki ini telah bangkit memberontak menentangnya, bersama-sama dengan anaknnya Al-Mansur dan berhasil membunuhnya. Sejak inilah mulai terlihat gejala runtuhnya dinasti abbasiyah.

2. Runtuhnya Dinasti Abbasiyah

Salah satu khalifah abbasiyah yang lemah kepemimpinannya adalah Al-Mutawakkil yang memerinta847-861 M. setelah al-Mutawakkil wafat karena di bunuh oleh orang-orang Turki, maka orang-orang Turki dapat merebut kekuasaannya dengan cepat. Merekalah yang memilih dan mengangkat khalifah sesuai dengan kehendak mereka, kekuasaan tidak lagi di tangan bani abbas, meskipun mereka tetap memegang jabatan khalifah. Masa tersebut adalah zaman kelemahan dan kemunduran bagi khalifah-khalifah bani abbas.

Setelah itu tenara turki lemah dengan sendirinya, di daerah-daerah muncul tokoh-tokoh kuat yang kemudian memerdekakan diri dari kekuasaan pusat, mendirikan dinasti-dinasti kecil.

Yang berbangsa Persia:

  1. Bani Thahiriyyah di Khurasan, (205-259 H/820-872 M).
  2. Bani Shafariyah di Fars, (254-290 H/868-901 M).
  3. Bani Samaniyah di Transoxania, (261-389 H/873-998 M).
  4. Bani Sajiyyah di Azerbaijan, (266-318 H/878-930 M).
  5. Bani Buwaih, bahkan menguasai Baghdad, (320-447 H/ 932-1055 M).

Yang berbangsa Turki:

  1. Thuluniyah di Mesir, (254-292 H/837-903 M).
  2. Ikhsyidiyah di Turkistan, (320-560 H/932-1163 M).
  3. Ghaznawiyah di Afganistan, (351-585 H/962-1189 M).
  4. Bani Seljuk/Salajiqah dan cabang-cabangnya:

    a. Seljuk besar, atau Seljuk Agung, didirikan oleh Rukn al-Din Abu Thalib Tuqhril Bek ibn Mikail ibn Seljuk ibn Tuqaq. Seljuk ini menguasai Baghdad dan memerintah selama sekitar 93 tahun (429-522H/1037-1127 M). Dan Sulthan Alib Arselan
    Rahimahullah memenangkan Perang Salib ke I atas kaisar Romanus IV dan berhasil menawannya.

    b. Seljuk Kinnan di Kirman, (433-583 H/1040-1187 M).

    c. Seljuk Syria atau Syam di Syria, (487-511 H/1094-1117 M).

    d. Seljuk Irak di Irak dan Kurdistan, (511-590 H/1117-1194 M).

    e. Seljuk Ruum atau Asia kecil di Asia tengah(Jazirah Anatolia), (470-700 H/1077-1299 M).

Yang berbangsa Kurdi:

  1. al-Barzuqani, (348-406 H/959-1015 M).
  2. Abu ‘Ali, (380-489 H/990-1095 M).
  3. al-Ayyubiyyah, (564-648 H/1167-1250 M), didirikan oleh Sulthan Shalahuddin al-ayyubi setelah keberhasilannya memenangkan Perang Salib periode ke III.

Yang berbangsa Arab:

  1. Idrisiyyah di Maghrib, (172-375 H/788-985 M).
  2. Aghlabiyyah di Tunisia (184-289 H/800-900 M).
  3. Dulafiyah di Kurdistan, (210-285 H/825-898 M).
  4. ‘Alawiyah di Thabaristan, (250-316 H/864-928 M).
  5. Hamdaniyah di Aleppo dan Maushil, (317-394 H/929- 1002 M).
  6. Mazyadiyyah di Hillah, (403-545 H/1011-1150 M).
  7. Ukailiyyah di Maushil, (386-489 H/996-1 095 M).
  8. Mirdasiyyah di Aleppo, (414-472 H/1023-1079 M).

Yang mengaku dirinya sebagai khilafah:

Faktor Internal Kemunduran Dinasti Abbasiyah diantaranya :

  • Luasnya wilayah kekuasaan daulah Abbasiyyah sementara komunikasi pusat dengan daerah sulit dilakukan. Bersamaan dengan itu, tingkat saling percaya di kalangan para penguasa dan pelaksana pemerintahan sangat rendah.
  • Dengan profesionalisasi angkatan bersenjata, ketergantungan khalifah kepada mereka sangat tinggi.
  • Mayoritas Khalifah periode akhir lebih mementingkan urusan pribadi dan melalaikan urusan dan tugas Negara, mereka lebih suka berpoya-poya dan bermewah-mewahan.
  • Merajalelanya Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN) di kalangan pejabat kerajaan.

Faktor Eksternal Kemunduran Dinasti Abbasiyah

  1. Perang Salib yang berlangsung beberapa gelombang atau periode dan menelan banyak korban.
  2. Serangan tentara Mongol ke wilayah kekuasaan Islam yang di pimpin oleh panglima Khulagu Khan. Dengan pembunuhan yang kejam ini berakhirlah kekuasaan Abbasiyah di Baghdad. Kota Baghdad sendiri dihancurkan rata dengan tanah, sebagaimana kota-kota lain yang dilalui tentara Mongol tersebut. Walaupun sudah dihancurkan, Hulagu Khan memantapkan kekuasaannya di Baghdad selama dua tahun, sebelum melanjutkan gerakan ke Syria dan Mesir. Jatuhnya kota Baghdad pada tahun 1258 M ke tangan bangsa Mongol bukan saja mengakhiri kekuasaan khilafah Bani Abbasiyah di sana, tetapi juga merupakan awal dari masa kemunduran politik dan peradaban Islam, karena Bagdad sebagai pusat kebudayaan dan peradaban Islam yang sangat kaya dengan khazanah ilmu pengetahuan itu ikut pula lenyap dibumihanguskan oleh pasukan Mongol yang dipimpin Hulaghu Khan tersebut.
  1. MENGAMBIL IBRAH DARI PERKEMBANGAN KEBUDAYAAN/PERADABAN ISLAM PADA MASA DINASTI ABBASIYAH UNTUK MASA KINI DAN YANG AKAN DATANG

Mengamati sejarah umat Islam masa lalu yang tidak mrnguntungkan, sudah saatnya kita segera menyikapi dan menentukakn sikap untuk mempersiapkan generasi masa depan yang lebih baik. Kalau tidak segera diambil langkah-langkah konkret sistematik dan istikomah, maka besar kemungkinan generasi depan akan lebih parah tragisnya apabila mereka kehilangan peradaban Islam, baik secara fisik maupun maknanya.

Adapun Ibrah yang dapat kita ambil dari peradaban Dinasti Abbasiyah adalah sbb :

  • Menyaring pengaruh peradaban/kebudayaan dari luar.
  • Memadukan peradaban/kebudayaan dari luar dengan kebudayaan yang kita miliki, tanpa merusak salah satu budaya.
  • Mengembangkan kesadaran diri baik individu, masyarakat, umat, maupun manusia secara universal.
  • Mempersatukan manusia
  • Menumbuhkan semangat kerja
  • Menciptakan solidaritas yang dinamis, dan
  • Bekerja keras dan terus menuntut Ilmu gunan kemajuan Nusa, Bangsa dan Agama.
  1. MENELADANI KETEKUNAN DAN KEGIGIHAN BANI ABBASIYAH

Hal yang tidak ternilai harganya yang dapat diambil dari sejarah perkembangan islam pada masa bani abbasiyah, antara lain sebagai berikut :

  • Harus menjadi contoh bagi umat islam guna dijadikan cermin untuk meraih kemajuan islam pada masa yang akan dating
  • Member motivasi kepada kaum muslimin pada masa lampau umat islam pernah merebut keunggulan dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan, yang sekarang harus di rebut kembali.
  • Menyadarkan umat islam dari ketertinggalannya dan mencari penyebab kehilangan mutiara yang hilang itu (kemajuan ilmu pengetahuan)

Menggugah kepada generasi muda islam untuk terus belajar tanpa mengenal lelah agar bangsa Indonesia bias sejajar dengan bangsa-bangsa lain yang sudah maju, bahkan bias

Tentang vhianra

me is me not other
Tulisan ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s